Sabtu, 23 Maret 2013

Kebijakan Sistem Transportasi Pemerintah DKI Jakarta


                                             Kebijakan Sistem Transportasi Pemerintah DKI Jakarta


Selama ini kebijakan pemerintah kita kurang berhasil apakah kebijakan pemerintah sekarang berhasil coba kita lihat kebijakan-kebijakan pemerintah DKI Jakarta di bawah ini

Beberapa kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah transportasi adalah dengan Program Pengembangan Pola Transportasi Makro (PTM) DKI Jakarta atau Jakarta Macro Transportation Scheme (JMaTS). Pola Transportasi Makro itu mengintegrasikan empat sistem transportasi umum, yakni bus Priority (antara lain busway), Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT) dan Angkutan Sungai.TransJakarta atau yang biasa dipanggil Busway (kadang juga Tije) adalah sebuah sistem transportasi bus cepat di Jakarta, Indonesia. Sistem ini dimodelkan berdasarkan sistem Transmilenio yang sukses di Bogota, Kolombia. Transjakarta beroperasi sejak 15 Januari 2004 dan merupakan salah satu proyek dari Gubernur DKI, Sutiyoso.Selama dua minggu pertama, dari 15 Januari 2004 hingga 30 Januari 2004, bus Tije memberikan pelayanan secara gratis. Kesempatan itu digunakan untuk sosialisasi, di mana warga Jakarta untuk pertama kalinya mengenal sistem tiket dan transportasi darat yang baru.
Mulai 1 Februari 2005, bus Tije mulai beroperasi secara komersil. Ada program khusus edukasi bagi anak-anak sekolah, yakni program Transjakarta goes to school dan penyediaan bus khusus bagi rombongan untuk anak sekolah (TK, SD, SDLB). Mereka mendapatkan bus khusus yang tidak bergabung dengan penumpang umum. Targetnya, para siswa ini diajari untuk tertib, belajar antre, dan menyukai angkutan umum.Salah satu faktor terbesar untuk menggunakan Busway adalah dari segi KEAMANAN dan KENYAMANAN. Jakarta, adalah kota yang rawan kejahatan. Kita harus selalu waspada terhadap setiap orang. Banyak orang merelakan 1000 rupiah lebih mahal untuk naik busway, daripada harus naik bus kotaBerdasarkan situs resminya busway  mulai dari 1 Februari 2004 hingga akhir Maret 2005, TransJakarta telah mengangkut sebanyak 20.508.898 penumpang. Tarif tiket TransJakarta adalah Rp. 3.500 (Januari 2006) per perjalanan. Pada jam 5 – 7 pagi adalah jam diskon dengan harga tarif Rp 2.000. Penumpang yang pindah jalur tidak perlu membayar tarif tambahan asalkan tidak keluar dari halte (shelter). Saat ini, rata-rata pada hari kerja, bus Tije mengangkut rata-rata 70 ribu penumpang, sedangkan pada hari libur, menggangkut 45 ribu penumpang. Bahkan pada bulan September 2005, penumpang telah menembus 2.037.407 orang. Rekor penumpang harian terjadi pada tanggal 3 Oktober 2005, yang mencapai 83.574 orang.
Pada saat awal beroperasi, TransJakarta mengalami banyak masalah, salah satunya adalah ketika atap salah satu busnya menghantam terowongan rel kereta api. Selain itu, banyak daripada bus-bus tersebut yang mengalami kerusakan, baik pintu, tombol pemberitahuan lokasi halte, hingga lampu yang lepas. Minimnya rambu-rambu di tempat-tempat strategis yang akan memasuki kawasan busway membuat pemakai jalan merasa seolah-olah terjebak masuk ke jalur macet. Selain macet, dampak lainnya dari proyek pembangunan jalur busway adalah ancaman terhadap “kelangsungan hidup” trayek sejumlah angkutan kota, khususnya pada jalur-jalur yang dilewati busway.

TransJakarta tampaknya sudah dalam keadaan operasi yang cukup baik, namun yang masih bermasalah adalah kurangnya bus-bus pengumpan (feeder) yang membantu melayani TransJakarta. Bila busway mampu menarik penumpang kendaraan pribadi (motor dan mobil) untuk pindah ke busway, maka jelas bahwa busway dapat mengurangi atau bahkan mengatasi kemacetan atau sama dengan membuat mobil – mobil pribadi tidak bertebaran di jalan raya. Ketika kemacetan dijalan bisa dikurangi itu sama saja dengan mengurangi konsumsi BBM secara sia – sia (ketika kendaraan hidup dalam keadaan macet) dan mengurangi pencemaran udara dari Pembangunan monorel diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan dalam jangka panjang. MRT (Mass Rapid Transport) bisa mengakomodasi atau mengangkut sekitar 1000 orang

Kebijakan terbaru dari pemerintah DKI Jakarta yaitu tentang penerapan sistem nomer plat kendaraan bermotor yaitu sistem ganjil genap mungkin di beberapa negara seperti Amerika berhasil apakahh di Jakarta berhasil. Seperti kata pengamat transportasi "kebijakan nomer ganjil genap mungkin akan menambah persoalan baru, yaitu warga Jakarta yang akan menambah kendaraan lagi dan malah membuat Jakarta menjadi lautan kendaraan" kebijakan pemerintah itu akan berhasil jika dibarengi dengan mempernyaman kendaraan umum dan halte di Jakarta.

0 comments:

Poskan Komentar